kapal hosho

6 Fakta tentang Hosho, Kapal Induk Pertama di Dunia

Saat teknologi penerbangan semakin berkembang, berbagai negara mulai berinovasi membuat pesawat terbang dan upaya lain dalam menunjang pertahanan udara.

Ketika itu, kendala yang dihadapi adalah pesawat berbahan kokoh dan berat. Ditambah lagi, ada keharusan mengharuskan pesawat membawa cadangan bahan bakar yang cukup untuk melakukan perjalanannya. Otomatis, pesawat membutuhkan tempat untuk mengisi bahan bakar.

Kapal-kapal kemudian didesain dengan memiliki dek yang lebar agar pesawat bisa mendarat dengan leluasa untuk mengisi bahan bakar. Namun, kapal ini hanya bersifat sementara dan setelah Perang Dunia I selesai tak berfungsi lagi.

Jepang kemudian memiliki ide cemerlang dengan membangun kapal induk pertama dunia tanpa harus memodifikasi kapal-kapal lainnya.

Hasilnya, Jepang memiliki kapal induk pertama dunia yang kali pertama beroperasi pada 27 Desember 1922, yaitu Hosho. Berikut adalah fakta menarik mengenai kapal induk Hosho: 1. Rencana awal menampung pesawat amfibi Hosho direncanakan sebagai pembawa pesawat amfibi dengan memiliki empat senjata pada bagian sudut-sudutnya.
Namun, rencana itu direvisi dan fokus utamanya untuk mengembangkan kapal induk agar bisa mendaratkan pesawat pada kapal. Hal ini terjadi karena belum ada kapal induk di negara lain yang memiliki kapasitas yang besar.

Hosho tertunda oleh perubahan desain yang berulang dan keterlambatan pengiriman peralatan. Akhirnya, Hosho baru bisa beroperasi pada 27 Desember 1922.

Percobaan pendaratan pertama dilakukan oleh pilot Inggris di bawah kontrak, yang dengan cepat digantikan oleh pilot Jepang yang dilatih oleh British Aviation Mission.

2. Kapal induk pertama
Ketika negara-negara lain memodifikasi kapal untuk membuat kapal induk sementara, Jepang menjadi inisiator pertama yang membangun kapal induk tanpa mengubah kapal-kapal lain.

Oleh karena itu, Hosho murni didesain dengan tujuan menjadi kapal induk. Selain itu, Hosho adalah kapal induk pertama dari Angkatan Laut Jepang dan merupakan kapal induk yang dibangun khusus untuk ditugaskan di dunia.

Kapal ini mempunyai peran penting sebagai tempat landing pesawat-pesawat tempur Jepang ketika berada di medan pertempuran.

3. Ukuran besar
Ketika kapal induk sementara hanya mampu menampung sekitar delapan pesawat, Hosho tampil lebih besar. Hosho mampu menampung sekitar 15 pesawat terbang dengan memiliki ukuran panjang 168 meter dan lebar 59 meter.

Hosho memiliki lebih dari 500 awak kapal dan mampu berjalan dengan kecepatan 25 knot atau 46 kilometer per jam dan memiliki bobot hingga 9.500 ton.

Hosho dilengkapi dengan jaring yang digunakan sebagai penghalang tabrakan.
Penghalang ini dimaksudkan untuk mencegah pesawat pendarat bertabrakan dengan pesawat yang bersiap untuk lepas landas, dan menghentikan mereka agar tidak jatuh. Penghalang dioperasikan secara hidrolik.

4. Pertempuran 1932
Hosho pertama kali terlibat pertempuran pada 1932 ketika membantu pesawat tempurnya di dekat Shanghai, China. Kemudian, melanjutkan pertempuran selama Perang China-Jepang.
Ketika Perang Dunia ke II, Hosho berfungsi terutama sebagai pembawa pelatihan, dan dilengkapi dengan dek penerbangan sekitar 180 meter dengan senjata anti-pesawat yang ditingkatkan.

5. Mendapat petisi karena kuno
Sebenarnya, ketika Perang Dunia II, Hosho dianggap sebagai barang tua dan ketinggalan zaman karena banyak kapal induk dengan teknologi canggih yang dibangun.

Bisa dikatakan, kapal induk ini kalah dalam hal peralatan.

Beberapa pejabat militer mengajukan petisi agar kapal itu pensiun dan digunakan sebagai kapal pelatihan.

Namun, Angkatan Darat Jepang tidak memiliki kapal induk, dan Hosho tetap digunakan untuk mendukung beberapa operasi.

6. Berubah fungsi
Setelah perang, Hosho berfungsi sebagai transportasi pemulangan untuk mengambil prajurit dan warga sipil Jepang yang ditempatkan di luar negeri dan mengembalikan mereka ke Jepang.

Secara total, kapal induk melakukan sembilan perjalanan repatriasi sebelum 15 Agustus 1946 dan mengangkut sekitar 40.000 penumpang.

Hosho dipindahkan ke Kementerian Dalam Negeri Jepang pada 31 Agustus untuk dibuang. Dia dibuang di Osaka dari 2 September 1946 hingga 1 Mei 1947 oleh Perusahaan Pembuatan Kapal Kyôwa.

sumber: kompas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>