pelabuhantanjungpriok

Potensi Asuransi Rangka Kapal Stagnan

Merujuk data Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI), pendapatan premi industri asuransi umum dari segmen rangka kapal turun 9,1% sepanjang 2017. Pada tahun 2016, segmen tersebut menyumbang sebesar Rp 1,76 triliun sementara di tahun 2017 kontribusinya hanya Rp 1,6 triliun.

Direktur Eksekutif AAUI Dody AS Dalimunthe menjelaskan, salah satu penyebab penurunan premi segmen rangka kapal karena banyak kapal di Indonesia yang sudah tua sehingga tidak dapat beroperasi. “Itu risiko asuransi,” sebut Dody saat dihubungi Kontan.co.id pada Rabu (7/3).

Untuk tahun ini, Dody masih memprediksi pertumbuhan asuransi rangka kapal akan stagnan. Salah satu penyebabnya, belum pastinya pelaksanaan Permendag 82 tahun 2017 yang mewajibkan ekspor dua komoditas industri yakni batubara dan kelapa sawit untuk menggunakan asuransi dari dalam negeri.

Jika hal itu bisa terlaksana, maka imbasnya akan positif bagi perusahaan asuransi termasuk segmen bisnis asuransi rangka kapal.

Dengan asumsi permendag 82 tahun 2017 itu belum bisa terlaksana dalam waktu dekat, maka AAUI memprediksi pertumbuhan di tahun 2018 juga stagnan. “Paling pertumbuhannya 7%,” sebut Dody.

Hal lain yang menjadi sorotan Dody adalah mahalnya ongkos pembuatan kapal. Oleh karenanya, Dody merasa perlu ada insentif. “Kapal level internasional di Batam banyak. Tapi sepertinya untuk membuat memang cukup mahal makanya butuh insentif juga insentif untuk mendatangkan suku cadang dari luar,” jelasnya.

Dody menambahkan, risiko asuransi rangka kapal memang tergolong complicated. Oleh karenanya, tidak banyak perusahaan asuransi umum yang melakukan penetrasi di lini bisnis itu.

Salah satu perusahaan asuransi umum, PT Asuransi Wahana Tata (Aswata) juga mengalami penurunan premi dari segmen asuransi rangka kapal.

Direktur Utama Aswata Christian Wanandi belum bisa menyebut penurunan tersebut, namun terkait pendapatan premi persaingan dengan asuransi umum lainnya dinilai ketat.

Di Aswata asuransi rangka kapal baru menyumbang 4% dari total portofolio pendapatan premi. Artinya dari total pendapatan premi sebesar Rp 1,9 triliun di tahun 2017, atau sekira Rp 76 miliar.

Akan tetapi, tahun ini Aswata menargetkan segmen asuransi rangka kapal bisa tumbuh sebesar 5%.

Lain halnya bagi PT Asuransi Asoka Mas. Perusahaan asuransi umum itu masih yakin dengan potensi asuransi rangka kapal, setidaknya dalam jangka panjang.

Direktur Utama Asoka Mas Yulianto Hengki mengakui di awal tahun ini justru ada penurunan pendapatan premi dari asuransi rangka kapal. Pada periode Januari-Februari 2017, perolehan premi dari sektor ini mencapai Rp 12 miliar. Jumlah tersebut turun menjadi Rp 7 miliar selama periode Januari-Februari 2018.

“Kami ada penurunan karena ada salah satu nasabah korporat yang tidak perpanjang polisnya,” jelas Yulianto saat dihubungi Kontan.co.id Rabu (7/3).

Pada tahun 2017 asuransi rangka kapal menyumbang 10% dari total premi Asoka Mas. Atau dari total capaian Rp 1,1 triliun, segmen rangka kapal menyumbang sekira Rp 100 miliar.

Ke depan, Asoka Mas yakni segmen rangka kapal memiliki potensi besar. Adapun faktor yang menjadi potensi besar bagi Asoka Mas karena melihat gencarnya pemerintah dalam meningkatkan ekonomi maritim, salah satunya dengan adanya tol laut.

Terkait tingginya risiko di asuransi rangka kapal, mitigasi risiko yang dilakukan Asoka Mas yakni dengan memastikan surat dan kelengkapan kapal yang masih baik dan valid. “Docking kapal yang berkaa dan berkesesuaian serta juga memahami lebih jauh manajemen pengelolaan armada kapalnya,” ujar Yulianto.

sumber: Kontan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>