kapalbaru_asuransikapal

Perjanjian Tambahan dalam Penutupan Asuransi Kapal Tunda

Pada pukul 7.40 wita, tanggal 6 Juli 1997, di Dermaga Nol Pelabuhan Laut Balikpapan, terjadi musibah. Kapal Tunda (selanjutnya disebut KT) Bima VII yang dinakhodai Purnama yang akan melepas KM Sangasanga, karena aliran listrik putus, sistim baling-baling kemudi sistim schottel tidak berfungsi. KT Bima VII tidak terkendali dan menabrak Kapal Angkatan Laut (KAL) Manggar dan Sepinggan. Kedua KAL yang lagi sandar ini, total loss, patah dan tenggelam di dasar laut.

Pihak Angkatan Laut (AL) mengajukan klaim ganti rugi sebesar Rp.2,8 milyar kepada PT Pelindo IV (Persero). Pihak PT Pelindo IV (Persero) mengajukan klaim asuransi kepada Perusahaan Asuransi PT Wedus Gembel (nama samaran), sebesar Rp 3,6 milyar. Dengan pertimbangan, KT Bima VII terhitung tanggal 20 Juli 1996 sd tanggal 20 Juli 1997, masih tercover dalam penutupan asuransi all risk dengan PT Wedus Gembel nilai pertanggungan Rp. 4 milyar.

Penyelesaian klaim AL dan klaim asuransi memerlukan waktu, biaya, tenaga, pikiran cukup besar dan lama. Mulai dari pemeriksaan di lapangan, pengajuan dokumen, penunjukan adjuster dan consultant independent, koordinasi dengan Dep. Perhubungan, Dep. Keuangan, dan Biro Klasifikasi Indonesia, dan Persidangan di Mahkamah Pelayaran, telah dilaksanakan. Hasilnya, nilai pertanggungan asuransi dari PT Wedus Gembel tidak didapatkan dan penyelesaian klaim AL diselesaikan melalui jalur negosiasi untuk mufakat.

Terdapat beberapa kelemahan yang perlu dilakukan pembenahan dalam penutupan asuransi yang dilakukan oleh PT Pelindo IV (Persero). Pengalaman adalah guru berbaik. Musibah KT Bima VII sebagai pembelajaran untuk lebih baik di masa depan. Kelemahan pertama, kurangnya kepedulian terhadap kelengkapan dokumen. Kedua, kurang paham (?) terhadap seluk beluk penutupan asuransi kapal. Ketiga, kriteria dalam polis asuransi terdapat beberapa kelamahan. Keempat, tidak ada upaya mencari jalan keluar dari permasalahan.

Permasalahan harus dihadapi dan dicari upaya pemecahannya. Gagasan ini, hanyalah bagian kecil dari upaya untuk mencari jalan keluar, agar apabila terjadi musibah kapal, sebagai resiko yang tidak diharapkan, penyelesaian klain asuransi dapat berjalan dengan lancar.

POLIS ASURANSI
Pengoperasian KT di kolam pelabuhan, untuk mendorong, menarik, menggandeng dan menahan kapal, apalagi untuk kapal yang memiliki ukuran besar, untuk melakukan olah gerak di kolam pelabuhan, disadari memiliki resiko tinggi. Sangat dimungkinkan KT terbakar, tertabrak, menabrak, tenggelam, tergencet atau resiko lainnya. Resiko apapun harus dikelola. Salah satu pengelolaan resiko, biasanya, dengan melakukan penutupan asuransi. Apabila terjadi resiko sebagian atau seluruhnya dialihkan kepada perusahaan asuransi yang siap menanggung kerugian.

Hasil pengamatan penutupan asuransi yang dilakukan, biasanya oleh Kantor Cabang PT Pelindo IV (Persero), sederhana saja. Dalam Keputusan Direksi No. KD 07 Tahun 2002 tentang Pedoman Penutupan Asuransi, harus dibentuk Tim Tahunan Permanen. Tugasnya tidak dijelaskan. Apakah pisik KT dilakukan pengecekan secara mendalam, apakah dokumen KT atau klausula penutupan asuransi terhadap KT dipelajari atau setidaknya ditanyakan, juga tidak jelas. Kesan umum sebagai berikut. Datang, nego, polis, premi, diam (no action within 1 year), datang lagi, polis lagi, premi lagi, begitu seterusnya. Mudah-mudahan ini salah. Tanpa ada upaya untuk mengetahui, menanyakan atau mendalami isi, klausula, kriteria yang termuat dalam polis dan dampak apabila terjadi musibah.

Ambil saja polis asuransi KT Bima VII yang dikeluarkan PT Wedus Gembel No. UPG/KMH/000/96 (nomor rekaan). Polis ini telah dipersiapkan dalam bentuk cetakan dalam 1 lembar dan tinggal isi kolom-kolomnya. Kesan, terbatas ruangan. Sehingga criteria dan conditions penting, dipaksakan untuk dimuat dengan berjejal-jejal. Diyakini kondisi yang dimuat dalam polis KT Bima VII, pada saat polis diterima, belum, tidak atau tidak dimengerti atau tidak mencoba memahami apa yang harus dilakukan dan apa saja dampaknya apabila terjadi musibah. Diantaranya :

1. Subject to Institute Time Clause Hull (All Risk) 1-10-83 including Salvage, Salvage Charges, Sue and Labour.

2. Institute Radioactive Contamination Excluding Clause 1.10.90.

3. Subject to Flag Owner and Management by Indonesian Interest.

4. Subect to still valid Dokuments.

5. Subject to Vessel BKI Classed and Class Maintained at All Times

6. Warranted Seaworthiness.

7. Deductible 1% of Total Sum Insured (TSI), any one accident an additional deductible for a loss or damage due to crew’s negligence shall be applied as follows : 25% of claim payable of machinery loss or damage and 10% of claim payable or Rp 25.000.000,00 whichever is higher for all other losses or damage.

8. Trading warranty wilayah pelabuhan dan daerah pemanduan.

9. Excluding return for Lay-up and cancellation premium.

Karena asuransi KT menyangkut re-asuransi ke perusahaan asuransi asing, maka atas dasar Konvensi Internasional (English Insurance Law), dilampirkan dalam polis dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pilis, yaitu ketentuan dari Insttitute Time Clause Hull (ITC Hull) 1-10-83. Jadi Polis Asuransi KT awalnya hanya terdiri dari 2 bagian. Pertama Polis itu sendiri dan kedua lampiran berupa ITC Hull 83.

(bersambung…)

sumber: inaport4

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>