Asuransi Kargo: Priok Diminta Perbanyak Sosialisasi

Pengelola terminal peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta Utara diminta mempergencar sosialisasi ke kawasan industri untuk mendongkrak produktivitas pelabuhan terbesar di Indonesia itu. Ketua Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) DKI Jakarta Widijanto menyatakan kawasan industri atau hinterland yang potensial bagi Pelabuhan Tanjung Priok tersebar di beberapa wilayah di Banten dan Jawa Barat.

“Potensi hinterland tersebut mestinya juga dimanfaatkan pengelola terminal peti kemas di Priok untuk mensosialiasikan fasilitas apa saja yang ada di pelabuhan itu,” katanya kepada Bisnis di Jakarta, Minggu (22/1). Hinterland Pelabuhan Tanjung Priok berdasarkan data ALFI DKI Jakarta ber- asal dari wilayah di Merak atau Cilegon mencapai 668 hektare, Serang Banten seluas 4.253 hektare, Tangerang seluas 3.345 hektare, Bogor seluas 500 hektare, dan Bekasi 6.500 hektare.

Selain itu, dari Cibinong Bogor mencapai luas 13.138 hektare, Purwakarta 3.665 hektare, Bandung 700 hektare dan Cirebon 60 hektare. Widijanto juga berharap pemerintah membuat kebijakan guna mendorong optimalisasi pemanfaatan Pelabuhan Tanjung Priok dalam kegiatan ekspor impor dan domestik menyusul  bertambahnya fasilitas terminal peti kemas di pelabuhan itu.

Saat ini, di Pelabuhan Tanjung Priok terdapat lima fasilitas terminal yang melayani ekspor impor yakni PT Ja- karta International Container Terminal (JICT), Terminal Peti Kemas (TPK) Koja, New Priok Container Terminal One (NPCT-1), PT Terminal Mustika Alam Lestari (MAL) dan Terminal 3 Pelabuhan Tanjung Priok. Dia menilai Tanjung Priok layak sebagai pelabuhan pengumpul ( hub ) yang ideal. Namun, dia menambahkan penaik- an status menjadi pelabuhan hub perlu dukungan pemangku kepentingan atau stakeholders dan regulasi yang berpihak pada efi siensi biaya logistik.

“Makanya pemerintah buatlah kebijakan agar fasilitas di Priok mesti dioptimalisasikan supaya biaya kegiatan logistik bisa ditekan. Sudah saatnya kita hindari kepentingan bisnis yang tidak berpihak pada biaya logistik murah,” ujarnya.

CUKUP MUMPUNI
Sebenarnya, dia menambahkan fasilitas di Pelabuhan Tanjung Priok sudah sangat mumpuni untuk melayani kegiatan logistik melalui angkutan laut. Widijanto juga mempertanyakan program optimalisasi Terminal 2 di JICT di Pelabuhan Tanjung Priok, yang kini menganggur. Menurutnya, Terminal 2 JICT bisa saja dijadikan fasilitas domestik karena pelayanan kontainer domestik kurang mendapatkan perhatian.

“Di sisi lain pengguna jasa saat ini banyak pilihan di Priok. Seharusnya fasilitas yang ada dioptimalkan apalagi dukungan wilayah industri atau hinterland
Pelabuhan Priok juga cukup besar,” paparnya Widijanto juga menampung laporan dari perusahaan forwarder dan logistik anggota ALFI terkait dengan belum selesainya pengembalian uang jaminan kontainer impor pascabangkrutnya pe- layaran global Hanjin Shipping.

Uang jaminan peti kemas impor, katanya, dibayarkan kepada perusahaan pelayaran global saat menebus delivery order (DO) untuk kegiatan impor melalui agen pelayaran di dalam negeri untuk mengantisipasi jika terjadi kerusakan peti kemas. Selama ini, pemilik barang ditarik uang jaminan besarannya Rp1 juta per boks ukuran 20 kaki dan uang jaminan Rp2 juta per 40 boks ukuran 40 kaki. Uang jaminan tersebut akan dikembalikan setelah kontainer kosong diserahkan ke depo dalam kondisi baik. Bila ada kerusakan uang jaminan akan diperhitungkan dengan biaya perbaikan kontainer yang rusak. “Kami akan sampaikan persoalan uang jaminan kontainer impor itu kepada Kemenhub, sebab penanganan perma- salahan ini diinisiasi oleh Kemenhub sebelumnya,” ujarnya.

Sementara itu, Direktur Operasi dan Pengembangan Sistem Informasi dan Teknologi PT Pelabuhan Indonesia (Pe- lindo) II/IPC, Prasetyadi mengatakan, pihaknya terus melakukan sosialisasi dukungan hinterland untuk mengoptimalkan pemanfaatan Tanjung Priok. Bahkan, katanya, dukungan hinterland Priok kini bukan hanya untuk wilayah Jawa Barat dan sekitarnya tetapi sudah mencakup ke wilayah Semarang dan sekitarnya.

“Kami akui semua upaya itu kami lakukan secara silent . Namun kini sudah ada hasilnya yakni pada triwulan kedua tahun ini bakal ada mothet vessel masuk
Priok dengan layanan direct call Jakarta-Amerika Serikat dengan satu kapal. Layanan ini peroleh karena adanya du- kungan tambahan dari hinterland Priok,”
ujarnya.

Prasetyadi mengatakan Pelindo II akan terus menyosialisasikan seluruh fasili- tas Pelabuhan Tanjung Priok agar bisa dioptimalkan menjadi transhipment hub domestik  atau hub ekspor impor.

sumber: bisnis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>