Maersk Line Gandeng Alibaba, Ini Pengaruh Terhadap Industri Jasa Logistik

Awal 2017 ini, Perusahaan ​Pelayaran Kontainer terbesar di Dunia, Maersk Line mengumumkan telah menggandeng Alibaba untuk menyediakan layanan online yang memungkinkan shippers memesan kontainer dan ruang muat kapal secara langsung tanpa melalui pihak forwarder. Alibaba adalah situs layanan e-commerce terbesar di dunia milik Jack Ma, asal China.

Layanan booking ruang kapal secara online ini sebenarnyan sudah beroperasi sejak 22 Desember 2016 lalu, dan untuk saat ini hanya melayani para eksportir china.

Bagaimana dampak layanan di atas terhadap industri jasa logistik, termasuk di Indonesia?. Jurnal Maritim mewawancara Defnil Napilus, seorang praktisi supply chain yang kini memgelola sebuah perusahaan jasa forwarding di Jakarta.

Menurut Defnil, strategi Maersk Line sangat baik, terutama karena berkolaborasi dengan Alibaba yang memiliki pengguna yang sangat besar.

Dari sisi biaya pengiriman, sistem tersebut dapat menurunkan total biaya pengiriman, karena bisa memperpendek proses booking container dan ruang kapal. Sementara dari sisi perusahaan pelayaran, bisa mengetahui lebih awal masing-masing tujuan dan berapa banyak container yg akan dimuat ke kapal, sehingga rencana pemuatan, proses pemuatan dan dokumen bisa disiapkan lebih awal.

Apakah kolaborasi Maersk Line-Alibaba berpengaruh terhadap bisnis forwarding?.

Defnil menyebut hal itu tergantung pada volume dan kebijakan perusahaan pelayaran. Untuk LCL (Less Container Load) tidak akan begitu terpengaruh. Sementara pada FCL (Full Container Load), pengaruhnya tergantung pada pricing policy dari perusahaan pelayaran.

“Jika pelayaran menerapkan one price policy (rate kirim 1 container sama dengan rate kirim 50 container), maka bisnis FCL forwarder akan rontok,” kata Defnil.

Saat ini buying power forwarder ada di volume. Jadi yang mungkin akan terpengaruh pada pihak forwarder adalah FCL, itupun jika pelayaran menerapkan one rate policy.

“Dalam waktu dekat, saya kira perusahaan pelayaran belum berminat untuk masuk ke LCL. Artinya, middleman sebagai konsolidator kargo tetap diperlukan.” Kata Defnil.

Pengaruh di Indonesia

Bagaimana jika layanan serupa sampai ke Indonesia, mengingat di sini juga menjamur layanan e-commerce seperti Alibaba.

Menurut anggota Indonesia Maritime Society (IndoMarsoc) ini, di Indonesia masih banyak exportir dan importir yang kurang confidence melakukan sendiri proses custom clearance dan proses handling di pelabuhan. Namun, di masa depan, jika kedua proses di atas sudah direformasi menjadi lebih sederhana, maka bisnis FCL forwarder akan banyak tergerus oleh layanan booking shipping online tersebut.

“Untuk diketahui, selama ini shipper yang volumenya FCL nya besar, umumnya pabrikan, sudah banyak yang booking langsung ke pelayaran, tidak lagi melalui forwarder”. Ungkapnya.

Defnil menambahkan, jika rute Maersk Line dari Pelabuhan-pelabuhan di China sampai ke Indonesia, maka harga jual produk mereka di Indonesia akan semakin kompetitif, karena dampak biaya pengiriman yang lebih rendah. Ancamannya tentu saja ke industri dalam negeri kita.

“Pada akhirnya, perusahaan pelayaran dan penyedia jasa logistik dalam negeri perlu mempersiapkan diri menghadapi perubahan model bisnis di shipping.” Tutup Defnil.

sumber: jurnalmaritim

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>