Laut Natuna_asuransikapal

Jokowi Serukan Perketat Penjagaan Laut Natuna

Presiden Republik Indonesia Joko Widodo menginstruksikan kepada Tentara Nasional Indonesia dan Badan Keamanan Laut untuk memperketat penjagaan laut. Instruksi itu diberikan dalam rapat kabinet terbatas yang berlangsung di kapal perang TNI Angkatan Laut, KRI Imam Bonjol, di perairan Natuna kemarin.

“Patroli dan penjagaan keamanan laut harus ditingkatkan. Agar saudara-saudara kita di perbatasan, kawasan terluar, dan pulau terdepan Indonesia, bisa maju bersama saudara-saudaranya yang lain di tanah air,” kata Jokowi dalam pesan tertulis kepada publik via akun resminya di media sosial, beberapa saat usai memimpin rapat di KRI Imam Bonjol.

Rapat kabinet terbatas di KRI Imam Bonjol itu membahas rencana pengembangan Natuna. Rapat digelar di tengah mencuatnya kembali ketegangan antara Indonesia dan China, usai kapal perang RI melepas tembakan ke kapal nelayan China yang memasuki zona ekonomi eksklusif Indonesia di perairan Natuna dan menebar jala di sana.

Tembakan peringatan itu dilepas oleh KRI Imam Bonjol yang kemarin disambangi Jokowi, menunjukkan pesan kuat Indonesia kepada China tentang sikapnya atas Laut Natuna yang merupakan zona ekonomi eksklusif Indonesia.

“Pengamanan di wilayah perairan perbatasan tidak boleh kita lupakan,” kata Jokowi, yang juga mengingatkan agar kelengkapan teknologi radar RI pun diperhatikan.

Sebagai salah satu pulau terdepan Indonesia yang menjadi gerbang negeri, ujar Jokowi, Natuna harus dibangun. Untuk itu pemerintah akan fokus pada industri perikanan dan minyak-gas. Terlebih di sekitar Kepulauan Natuna terdapat 16 blok migas, dengan 5 blok sudah berproduksi, sedangkan 11 blok lainnya pada tahap eksplorasi.

Sementara kekayaan ikan Natuna yang melimpah membuat pemerintah hendak membangun sentra kelautan dan perikanan di wilayah itu secara terpadu.

Soal rapat kabinet yang digelar Jokowi di atas kapal perang yang menembak kapal China, Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan Luhut Binsar Pandjaitan menyatakan hal tersebut merupakan “sinyal.”

Luhut menegaskan, Natuna ialah wilayah Indonesia, dan Indonesia tidak ingin ada yang mengganggu stabilitas di kawasan itu.

Natuna yang berada di barat daya Kalimantan dan secara administratif masuk Provinsi Kepulauan Riau, memiliki posisi rawan karena berhadapan dengan wilayah sengketa Laut China Selatan.

Meski demikian, menurut Luhut, Indonesia bukannya sedang unjuk kekuatan dari KRI Imam Bonjol yang berlayar di Natuna.

“Kami tetap bersahabat dengan Tiongkok,” ujar Luhut seperti dilansir Antara usai mengikuti rapat terbatas dengan Jokowi di KRI Imam Bonjol.

Destinasi wisata baru

Natuna tak hanya akan dijaga ketat, namun juga dikembangkan menjadi destinasi wisata baru oleh pemerintah Indonesia.

Menteri Pariwisata Arief Yahya menyatakan telah meminta kepada Dinas Pariwisata Kepulauan Riau untuk melaporkan hasil kunjungan kerja Presiden Jokowi ke Natuna kemarin kepada kementeriannya untuk bersinergi.

Natuna yang memiliki potensi wisata bahari ke depannya akan ditunjang oleh infrastruktur yang lebih memadai. Untuk itu Jokowi telah menginstruksikan percepatan pembangunan di Natuna.

Pembangunan infrastruktur di Natuna bertujuan untuk meningkatkan konektivitas wilayah dan mendorong perekonomian setempat seperti industri perikanan, gas, termasuk wisata bahari.

sumber: cnnindonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>