asuransikapal_investasimaritim

Asuransi Kapal: Musim Semi Investasi Sektor Maritim

Pemerintahan Joko Widodo telah berjalan hampir 1,5 tahun. Selama itu pula, gagasan tol laut, yang menjadi salah satu program prioritas dalam Nawa Cita pemerintahan Jokowi, coba diwujudkan. Bagaimana perkembangannya hingga kini?

Pada tahun pertamanya, yakni tahun 2015, Jokowi dengan ambisius, mengalokasikan dana cukup besar untuk pengembangan transportasi laut.

Jokowi berencana membangun 59 prasarana dermaga penyeberangan dan pelabuhan perintis di 26 lokasi.

Selanjutnya, dalam APBN-P 2015, Kementerian Perhubungan mendapatkan tambahan dana sekitar Rp20 triliun. Dari jumlah itu, sekitar Rp11,93 triliun akan dipakai untuk pembangunan tol laut antara lain pengembangan pelabuhan di 77 lokasi tol laut, fasilitas pelabuhan, Global Maritime Distress and Safety System, dan Vessel Traffic Services.

Pemerintah juga menyuntikkan modal dalam bentuk Penyertaan Modal Negara (PMN) kepada PT Pelindo IV sebesar Rp2 triliun. Dana tersebut akan digunakan Pelindo IV untuk mengembangkan beberapa pelabuhan antara lain Kariangau, Pantoloan, Kendari, Ternate, Ambon, Sorong, dan Jayapura.

Namun, implementasi dari rencana tersebut tidak semulus seperti yang diharapkan.

Melemahnya perekonomian global yang kemudian berimbas pada Indonesia, penurunan daya beli masyarakat serta kejatuhan harga komoditas membuat perekonomian Indonesia terpuruk.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2015 hanya 4,79 persen, turun dibandingkan tahun 2014 yang sebesar 5,02 persen.

Rencana pembangunan infrastruktur termasuk di sektor maritim yang dicanangkan Jokowi pun meleset.

Sebab, dana yang tersedia tidak mencukupi untuk membangun infrastruktur sesuai target.

Dari target penerimaan pajak sebesar Rp1.489,3 yang tercantum dalam APBN Perubahan (APBN-P) 2015, ternyata realisasinya hanya Rp1.235,8 triliun, atau meleset Rp253,5 triliun.

Seiring jatuhnya harga migas dan komoditas tambang, Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) pun jatuh dari Rp390,7 triliun pada 2014 menjadi Rp252,4 triliun.

Maka, di tahun pertamanya, tahun 2015, Jokowi bisa dibilang gagal merealisasikan pembangunan infrastruktur di sektor maritim sesuai target.

Namun, Jokowi tidak menyerah.

Memasuki 2016, Jokowi justru mengeluarkan Peraturan Presiden Nomor 3 Tahun 2016 tentang percepatan pelaksanaan proyek strategis nasional.

Dalam Perpres tersebut, ada 225 proyek strategis nasional yang akan dikebut penyelesaiannya.

Dari 225 proyek tersebut, ada 13 proyek yang terkait dengan transportasi laut.

Selain itu, dalam APBN 2016, Kementerian Perhubungan mendapatkan alokasi dana sebesar Rp48,5 triliun untuk pembangunan kapal perintis penumpang dan barang sebanyak 100 unit.

Total jenderal, dana yang dialokasikan untuk pengembangan sektor maritim dalam APBN 2016 mencapai Rp76,74 triliun.

Selain pembangunan kapal perintis, program penyelenggaran transportasi laut adalah pembangunan sarana bantu navigasi pelayaran sebanyak 221 unit, pembangunan trayek perintis dan PSO sejumlah 96 trayek dan 22 kapal.

Pembangunan sektor maritim tersebut merupakan bagian dari pembangunan infrastruktur yang total dananya mencapai Rp313 triliun pada 2016.

Pada 2016, pemerintah juga mengalokasikan Penyertaan Modal Negara (PMN) kepada BUMN-BUMN di sektor maritim yang belum mendapatkan PMN pada 2016.

BUMN tersebut adalah PT Pelindo III sebesar Rp1 triliun dan PT Pelayaran Nasional Indonesia (Pelni) sebesar Rp564,8 miliar (nontunai).

Sebagai operator terminal pelabuhan, Pelindo 3 mengelola 43 pelabuhan dengan 16 kantor cabang yang tersebar di tujuh propinsi di Indonesia meliputi Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.

Untuk membangun infrastruktur sektor maritim, pemerintah tidak hanya mengandalkan keuangan APBN, APBD dan BUMN, tetapi juga mengundang investor baik asing maupun domestik.

Nah, komitmen dan konsistensi pemerintah dalam mengembangkan sektor maritim serta cerahnya prospek ekonomi Indonesia ke depan ternyata menarik perhatian investor asing.

Memasuki 2016, sejumlah investor asing menyatakan minatnya untuk berinvestasi di sektor maritim Indonesia.

Berdasarkan data dari Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), dalam dua bulan pertama 2016, komitmen investasi di sektor maritim mencapai Rp525 miliar.

Jumlah tersebut meningkat 134 persen dibandingkan periode sama tahun 2015.

Khusus di bulan Februari 2016, komitmen investasi mencapai Rp432 miliar, naik 194 persen dibandingkan bulan yang sama tahun lalu.

Pertumbuhan komitmen investasi sektor maritim merupakan salah satu yang tertinggi dibandingkan sektor-sektor lainnya.

Salah satu investor yang berminat adalah BUMN China yang bergerak di bidang galangan kapal.

Kepala BKPM Franky Sibarani menyampaikan kepada BUMN China itu, bahwa salah satu perusahaan lokal di Indonesia sedang mencari mitra untuk mengembangkan Kapal Pembawa LNG dengan kapasitas 4.500 meter kubik.

“BKPM mengundang investor untuk datang ke Indonesia guna meninjau industri perkapalan di Indonesia, dan siap membantu dalam mencarikan mitra untuk mengembangkan bisnis galangan kapal dan pelabuhan,” kata Franky.

Investor asing lainnya yang berminat adalah Investor asal Korea Selatan.

Investor tersebut juga membidik sektor perkapalan dengan menyampaikan minat investasi sebesar 80 juta dollar AS (setara dengan Rp 1 triliun dengan kurs dolar AS Rp12.500) untuk menyediakan dua kapal transportasi gas.

Investor itu akan segera melakukan site visit ke Indonesia untuk mencari mitra lokal.

Kepala BKPM Franky Sibarani menyatakan investor Korea Selatan sangat berminat menanamkan modal di bidang usaha transportasi laut.

Untuk merealisasikan minat ini, investor akan mengirimkan dua kapal pengangkut komoditas gas bumi sehingga terbuka peluang untuk pembangunan terminal gas sebagai storage.

“Saat ini tidak hanya besarnya investasi saja yang dicari, tapi adanya nilai tambah bagi Indonesia. Melalui minat investasi tersebut, menunjukkan adanya peluang yang cukup besar dan berkelanjutan di industri transportasi laut. Investor juga menyinggung program Presiden tentang tol laut yang akan memberikan dampak positif bagi Indonesia,” ujarnya Franky dalam keterangan resmi kepada media beberapa waktu lalu.

Ada juga investor Amerika Serikat yang berminat membangun coldstorage dengan nilai investasi sebesar 15 juta dollar AS. Untuk coldstorage, tahap pertama yang akan dibangun adalah di Sumbawa. Pabrik pengolahan ini nantinya akan mengolah hasil laut sebelum dipasarkan secara ritel di AS. Setelah Sumbawa investor akan membangun di Alor, Seram dan Sorong.

Berikutnya, lima investor Australia juga meminati investasi di sektor maritim.

Sektor-sektor yang menjadi pilihan adalah jasa pesiar kapal wisata (cruise), industri galangan kapal dan budidaya lobster. Dari tiga bidang usaha tersebut tercatat minat investasi sebesar 172 juta dollar AS (setara dengan Rp2,3 triliun dengan kurs setara Rp13.900).

Franky Sibarani menyampaikan minat investasi Australia terdiri dari minat investasi terminal pelabuhan senilai 30 juta dollar AS; operator Pelabuhan Tanjung Siapi-Api dengan nilai investasi 120 juta dollar AS; dan rencana perluasan investasi di bidang jasa wisata kapal pesiar senilai 7 juta dollar AS.

Selain itu investasi baru di bidang galangan kapal senilai 10 juta dollar AS dan minat investasi di bidang budidaya lobster senilai 5 juta dollar AS.

Lima investor tersebut berlokasi di negara bagian Western Australia.

Menurut Franky, minat investasi Australia disektor maritim sejalan dengan upaya pemerintah untuk mendorong pertumbuhan investasi di sektor tersebut.

“Apalagi sebagian minat investasi berlokasi di wilayah Indonesia timur. Ini akan berdampak positif dalam upaya untuk mendorong pemerataan investasi,” jelasnya.

Di Sumatera Selatan, peluang investasi terkait pengembangan Kawasan Industri Suge dan Pelabuhan Tanjung Batu di Kabupaten Belitung juga menarik perhatian investor.

Untuk pengembangan Pelabuhan Tanjung Batu, saat ini telah dibebaskan lahan seluas 76,5 hektar.

Terminal pelabuhan berfungsi sebagai terminal pelayanan kapal penumpang, general kargo, batubara (untuk kebutuhan PLTU Suge) dan kontainer, serta terminal khusus CPO.

Dimensi dermaga melayani kapal 10.000 DWT dengan tipe general cargo.

sumber: maritimnews.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>